“Memang ada beberapa kali RDP juga sudah disampaikan, kondisi yang pertama terkait kesiapan tenaga, terutama pasien yang banyak, sementara tenaga dinilai kurang profesional,” ujarnya, baru-baru ini.
Sejumlah upaya perbaikan sebenarnya telah dilakukan oleh pihak manajemen rumah sakit, jelas Ketua Fraksi PAN DPRD Kalteng ini.
Namun demikian, dalam menjawab persoalan mendasar di lapangan, hasil yang terlihat dinilai belum memberikan dampak yang signifikan. Pelayanan relatif berjalan dengan baik hanya saat jumlah pasien tidak terlalu padat, menurutnya.
“Permasalahan di rumah sakit Doris ini memang sejak dulu ada, terutama di IGD. Memang ada perubahan tapi belum terlalu signifikan. Namun setidaknya sudah ada pergerakan ke arah perbaikan,” tambahnya.
Tenaga medis kerap kali kewalahan karena keterbatasan kapasitas yang ada ketika jumlah pasien meningkat drastis, nilai Tomy lebih lanjut.
Penilaian negatif dari masyarakat terhadap pelayanan IGD yang belum maksimal kemudian seringkali dipicu oleh adanya kondisi tersebut di lapangan.
Kepadatan pasien di IGD RSUD dr Doris Sylvanus diharapkan oleh DPRD Kalteng dapat terbantu urai melalui adanya jalinan sinergi antar rumah sakit di Kota Palangka Raya.
Agar pelayanan kesehatan bagi masyarakat semakin maksimal, rencana pembangunan serta pengembangan rumah sakit baru, termasuk langkah optimalisasi RS Kalawa Atei, selain itu diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang. (Red)


















