PALANGKA RAYA, KALTENGBERKAH.ID – Di sebuah sudut Jalan Aries II No. 24, riuh rendah suara anak-anak berbaur dengan gerakan tangan yang lincah menari di udara. Hari itu, Minggu, 11 Januari 2026, bukan sekadar peresmian basecamp baru bagi komunitas Huma Sarita Kalteng, melainkan perayaan atas sebuah ruang aman bernama inklusivitas.
Huma Sarita, yang dalam bahasa Dayak berarti “rumah bercerita,” telah memulai perjalanannya sejak 28 November 2024. Bertepatan dengan Hari Dongeng Nasional, komunitas ini lahir dari sebuah keresahan sekaligus harapan: menciptakan ruang belajar yang ramah anak dan partisipatif bagi siapa saja—baik “teman tuli” maupun “teman dengar”.
Bagi Huma Sarita, literasi bukan sekadar mengeja huruf di atas kertas. Melalui motto “Dengarkan-Ceritakan-Karyakan,” mereka menjadikan literasi sebagai ruang perjumpaan yang menggabungkan seni visual, narasi, dan empati sosial.
Setiap akhir pekan, suasana di Huma Sarita selalu hidup dengan tiga program unggulan mereka:
-
Dongeng Club: Mengajak anak-anak menyelami cerita melalui metode ekspresif.
-
Ilustrator Club: Menjadi wadah bagi jari-jemari kecil untuk mengeksplorasi seni visual.
-
Hining Club: Inilah jantung dari komunikasi setara, di mana Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dipelajari bersama agar komunikasi antara teman tuli dan dengar tak lagi memiliki tembok penghalang.
“Komunitas ini menjawab keterbatasan ruang inklusi di Palangka Raya,” tulis pernyataan resmi mereka. Fokusnya jelas: memberikan ruang aman bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK), terutama teman tuli, untuk tumbuh dan berekspresi secara mandiri.
Langkah Huma Sarita tak berjalan sendiri. Mereka menggandeng berbagai mitra strategis mulai dari instansi pemerintah hingga sekolah khusus untuk memastikan dampak yang lebih luas.
Berikut adalah kutipan dari para mitra mengenai peran penting Huma Sarita:
Perwakilan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah: “Kami sangat mengapresiasi kehadiran Huma Sarita sebagai komunitas literasi yang tidak hanya fokus pada minat baca, tapi juga pada aspek inklusivitas. Pembinaan yang kami lakukan bersama bertujuan agar model literasi seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi komunitas lain di Kalimantan Tengah.”
Dengan pembagian kelas berdasarkan jenjang usia—Tabela untuk pemula dan Bakas untuk lanjutan—Huma Sarita konsisten menjangkau anak-anak usia 6 hingga 12 tahun. Dukungan dari orang tua dan masyarakat luas kini menjadi bahan bakar utama agar “rumah bercerita” ini terus berdiri kokoh.
Huma Sarita adalah bukti bahwa dengan hati yang mau mendengar, setiap cerita bisa menjadi kebaikan yang setara bagi semua.
Bagi masyarakat, orang tua, atau calon relawan yang ingin bergabung dalam gerakan literasi inklusif ini, dapat mengunjungi atau menghubungi Huma Sarita melalui saluran berikut:
-
Basecamp (Risecamp): Jl. Aries II No. 24 (Komplek Amaco), Palangka Raya.
-
Telepon/WhatsApp: +62 813-4770-1033 atau +62 811-291-836.
-
Media Sosial: Instagram @HumaSarita.
- Email: huma.sarita24@gmail.com.















